STOP NARKOBA! START FROM SCHOOL AND FAMILY

Posted in Karyaku on Oktober 17, 2009 by zackyzuro

narkoba1Narkoba, sebuah kata yang tidak asing lagi bagi semua orang. Bahan berbahaya tersebut telah menjadi trend yang tak terelakkan dari kehidupan suatu negara. Posisi Indonesia yang berada pada posisi silang antara Benua Asia dan Australia serta antara Samudera Hindia dan Indonesia, dan juga sebagai negara kepulauan dengan jumlah pulau yang begitu besar dan garis pantai yang panjang, menjadikannya rentan terhadap perdagangan ilegal narkoba. Kondisi ini ditambah dengan jumlah penduduk yang besar, mencapai kurang lebih 215 juta jiwa dengan 40% diantaranya adalah generasi muda yang merupakan kelompok rentan bagi penyalahgunaan narkoba.
Indonesia terus bergulat melawan peredaran dan penyalahgunaan narkoba yang masif ini, baik dari aspek legislasi nasional dan kerjasama. Indonesia telah memiliki Undang-Undang (UU) No.5 Tahun 1997 tentang psikotropika dan UU No.22 tahun 1997 tentang narkotika yang didasarkan pada ketiga konvensi PBB, yaitu Single Convention on Narcotics Drugs 1961, Convention on Psychotropic Substances 1971, dan Convention against the Illicit Traffic in Narcotics Drugs and Psychotropic Substances 1988. Indonesia pun terus berupaya meningkatkan kerjasama baik secara bilateral, regional, dan multilateral terkait penanganan narkoba ini.
Tahun 2009 menandai 100 tahun perlawanan global terhadap penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan bahan adiktif lainnya, yaitu dengan adanya Konferensi Shanghai, 26-27 Februari 1909. Data Badan Narkotika Nasional (BNN) menyebutkan dalam lima tahun terakhir jumlah kasus tindak pidana narkoba di Indonesia rata-rata naik 51,3% atau bertambah sekitar 3.100 kasus/tahun. Ditengarai pula, data itu masih merupakan data di permukaan gunung es karena banyak kasus yang belum terungkap. Data yang belum terungkap jauh lebih besar bahkan bisa mencapai 10 kali lipat dibanding data yang sudah terungkap.
Kecenderungan perkembangan narkotika mengalami peningkatan yang signifikan serta adanya bukti bahwa posisi Indonesia telah berubah dari daerah transit menjadi daerah konsumen, produsen bahkan pengekspor. Berdasarkan laporan dan informasi tentang situasi dan perkembangan permasalahan narkoba, telah diketahui bahwa peredaran gelap narkoba merupakan ancaman serius bagi masa depan bangsa karena telah merambah ke seluruh penjuru tanah air, bahkan telah sampai ke pedesaan. Peningkatan permasalahan narkoba ini, juga tampak dari meningkatnya proporsi tahanan dan narapidana narkoba di lembaga-lembaga pemasyarakatan di seluruh Indonesia yang telah melampaui angka rata-rata 50 persen dari jumlah tahanan dan narapidana.
Peningkatan dramatis angka kasus dan jumlah pengguna di tengah razia intensif oleh pihak kepolisian beberapa tahun terakhir sekaligus menjadi batu ujian krusial bagi Indonesia, terutama dalam mewujudkan Indonesia bebas narkoba 2025. Jumlah persis pengguna narkoba di Indonesia tidak diketahui. Tiga tahun lalu, menurut Kepala BNN I Made Mangku Pastika, angkanya sudah sekitar 3,2 juta orang dan untuk heroin 527.000 orang. Omzet perdagangan narkoba diperkirakan sekitar 4 miliar dollar AS per tahun. Namun, angka sebenarnya diperkirakan jauh lebih besar lagi.
Kondisi Indonesia sekarang sangatlah memprihatinkan dengan narkoba yang semakin mengancam. Berapa kerugian ekonomi dan kehancuran yang harus ditanggung bangsa ini dari kerusakan yang disebabkan oleh narkoba. Yang memprihatinkan, korban yang yang diincar jaringan ini justru dan terutama adalah generasi muda serta kelompok usia produktif. Akibatnya, efeknya juga sangat luas, bukan hanya dirasakan oleh yang bersangkutan, tetapi juga keluarga, masyarakat, bahkan kehancuran bangsa. Dari sekitar 85.689 kasus tindak pidana narkoba yang terjadi pada kurun 2001-2006, menurut BNN, sekitar 92 persen melibatkan pelaku pada usia produktif (20 tahun ke atas).
Meski polisi sudah bekerja keras, maraknya peredaran dan penyalahgunaan narkoba sebenarnya tidak bisa dilepaskan dari ada atau tidaknya keseriusan pemerintah, termasuk dalam hal ini aparat kepolisian dan penegak hukum. Salah satu contoh, kepolisian, BNN, dan Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia mengakui, 75 persen perdagangan narkoba di Jakarta dan sekitarnya dikendalikan hanya dari tiga lembaga pemasyarakatan (LP), yakni LP Cipinang, LP Tangerang, dan Rumah Tahanan Salemba. Ancaman hukuman mati pun tak mampu membendung aksi jaringan ini. Sekitar 58 dari 112 terpidana mati di Indonesia adalah terkait penyalahgunaan narkoba dan psikotropika. Namun, tak ada satu pun dari mereka ini bandar atau pemain besar. Kalaupun tertangkap, dari balik jeruji penjara, para bandar ini masih tetap bisa menjalankan dan memekarkan imperium bisnis haramnya.
Konsumsi narkoba melalui jarum suntik juga menjadi media penularan terbesar HIV/AIDS dan hepatitis B/C. Konsumsi narkoba merenggut 15.000 nyawa pengguna setiap tahun. Pastika bahkan memperkirakan rata-rata 40 orang meninggal setiap hari karena overdosis narkoba di Indonesia. Saat ini menurut hasil penelitian jumlah penyalahguna narkoba adalah 1,5% dari penduduk Indonesia atau sekitas 3,3 juta orang. Dari 80 juta jumlah pemuda Indonesia, 3 % sudah mengalami ketergantungan narkoba, serta sekitar 15. 000 orang telah meninggal dunia (BNN, 2006).
Faktor – faktor yang menyebabkan penyalahgunaan narkoba semakin marak antara lain faktor letak faktor ekonomi, faktor kemudahan memperoleh obat, faktor keluarga dan masyarakat, faktor kepribadian serta faktor fisik dari individu yang menyalahgunakannya. Narkoba ketika dijual harganya sangat tinggi dan menghasilkan keuntungan yang menggiurkan, sehingga banyak yang menjadi pengedar narkoba. Semakin banyak pengedar narkoba maka semakin mudah orang untuk memperoleh narkoba. Hal itulah salah satu penyebab kenapa narkoba semakin marak, karena narkoba mudah diperoleh. Selanjutnya terkait masalah keluarga, banyak orang yang menjadi pengguna narkoba karena keluarganya kurang perhatian terhadap kehidupan anaknya, sehingga anak tersebut lebih memilih narkoba sebagai tempat yang menurutnya dapat membantu ketidak harmonisannya dengan keluarga. Kondisi masyarakat sekarang yang semakin individualis juga ikut berkontribusi terhadap meluasnya pengguna narkoba. Penyalahguna narkoba mempunyai ciri kepribadian lemah, mudah kecewa, kurang kuat menghadapi kegagalan, bersifat memberontak dan kurang mandiri.
Perlu adanya usaha yang komprehensif untuk mengatasi permasalahan di atas, baik ditataran pembuat kebijakan, aparat hukum, pengedar dan pengguna. Kalaupun sudah ada undang-undang yang mengatur penyalahgunaan narkoba dan penanganannya, namun tanpa profesionalisme untuk menjalankannya maka akan tetap sama saja. Oleh karena itu aparat hukum sekarang harus lebih profesional, tanpa pandang bulu dan bersikap tegas. Pengedar narkoba adalah salah satu stakeholder bencana narkoba di Indonesia, oleh karena itu sepantasnya pengedar narkoba perlu dihukum mati untuk memberikan efek jera bagi yang lainnya.
Seperti dijelaskan dalam tulisan di atas bahwa yang paling banyak menjadi pengguna narkoba adalah kaum muda, maka perlu adanya penyadaran khusus baik kepada kalangan muda di negara ini dan semua keluarga (karena keluarga punya peran penting dalam mejaga kelakuan anggota keluarganya). Perlu adanya pendidikan bagi parents terkait pentingnya memberikan perhatian bagi anak mereka agar tidak terjerumus ke narkoba. Hal itu salah satunya bisa dilakukan dengan adanya acara khusus di TV yang mengupas tuntas tentang bahaya narkoba, hal itu akan bisa ditonton oleh semua penduduk Indonesia dan memberikan efek takut untuk menggunakan narkoba. Tempat paling strategis untuk memberikan pengetahuan tentang bahaya narkoba adalah sekolah, akan efektif sekali bila pemerintah memasukkan dalam kurikulum sekolah (SD, SMP, SMA, dan Perguruan Tinggi) tentang pendidikan Anti Narkoba. Hal itu akan bisa menanamkan pada semua kaum muda bangsa ini akan bahayanya narkoba mulai sejak bangku sekolah. PERANGI NARKOBA DAN SELAMATKAN GENERASI MUDA.
(Tulisan ini saya ikutkan dalam Lomba Gue Mau Hidup, oleh Media Indonesia)

Bahan referensi:
Anonim. 2008. Indonesia di Tengah Bisnis Narkoba Ilegal Global. http://www.politik.lipi.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=32:lidya-christin-sinaga&catid=8:kolom&Itemid=13&lang=in
Anonim. 2009. ”Gunung Es”. Narkoba http://www.suaramerdeka.com/smcetak/index.php?fuseaction=beritacetak.detailberitacetak&id_beritacetak=64083
Anonim. 2009. Kill Narkoba. http://amlb91.wordpress.com/2009/03/27/kill-narkoba/
Anonim. Indonesia Kini Menjadi Negara Pengekspor Narkoba. http://www.freelists.org/post/ppi/ppiindia-Indonesia-Kini-Negara-Pengekspor-Narkoba-bagaimana-usaha-kita
Samhadi, Sri Hartati. Perang Melawan Narkoba. http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0711/24/Fokus/4021204.htm

The Shining Example For Nationalism

Posted in Karyaku on Oktober 15, 2009 by zackyzuro

hormatbenderahe9Trend masyarakat sekarang lebih memilih terlihat seperti orang lain, orang lain yang dianggabnya baik itulah yang patut ditiru bahkan diimitasi. Mereka tidak lebih suka menjadi diri sendiri. Setiap hal yang dilakukan oleh public figure menjadi trend yang membanggakan bagi masyarakat. Proses ini sudah terjadi sejak lama dan sekarang ini menjadi-jadi saja. Dan perlu diketahui bahwa para public figure itu lebih banyak mem-copy dari asing. Berarti proses itu seperti siklus putus akulturasi behavior asing, masyarakat tidak merasa telah sedikit demi sedikit meninggalkan behavior bangsa, hanya meniru tapi yang ditiru juga lewat meniru.
Proses take off masyarakat dari behavior bangsa -masyarakat sosial- menuju behavior asing –liberal- membuat masyarakat Indonesia menjadi masyarakat yang apatis terhadap perkembangan bangsa, oportunis dan pragmatis. Apatis membawa pemilu Indonesia memiliki angka golput yang cukup banyak, oportunis dan pragmatis membuat masyarakat tidak peduli sesama dan menjadi individualis. Proses kegotongroyongan yang dulu kental dengan kehidupan masyarakat Indonesia berubah menjadi keping-keping individu yang memiliki kepentingan sendiri-sendiri.
Struktur masyarakat yang kokoh akan hancur lunglai dengan masyarakat yang semakin berindividu sendiri-sendiri. Tidak ada proses interaksi yang mengajak anggota masyarakat tahu dan peduli dengan kehidupan sekitar dan sesama. Yang akhirnya terbentuk bangsa yang individualis. Nasionalisme hanya menjadi branding pagelaran ketika agustusan. Bangsa ini akan semakin ditertawakan oleh jiran –Malaysia-. Mereka akan semakin terbahak-bahak dan semakin merajalela mengakuisisi semua kekayaan bangsa ini (sekelumit contoh). Hanya dengan gertakan sambal saja bangsa ini sudah surut nyalinya, modal nekat-pun tidaklah cukup. ”Ganyang …………” hanya sebuah emosi sesaat, pasca itu menguap tak berbekas, tak ada usaha untuk memperkuat benteng bangsa supaya tidak ada lagi akuisisi kekayaan bangsa.
Dengan kasat mata masyarakat Indonesia terlihat memiliki nasionalisme yang cukup baik, namun apa hanya dengan upacara bendera dan mengatakan ”Ganyang …………..” bisa dikatakan nasionalisme?, itu hanya sebuah emosi atau memang sebuah nasionalisme. Nasionalisme menyebabkan emosi atau emosi menyebabkan nasionalisme?. Semburat nasionalisme tampak ketika ada pemicunya, dan ketika tidak ada pemicunya maka nasionalisme itu menguap tak tampak lagi. Celah-celah itulah yang rawan bagi mental nasionalisme bangsa yang secara tidak sadar terdegradasi oleh apatisme, oportunisme dan pragmatisme yang kemudian muncullan masyarakat yang individualis.
Mulai dari mana?. Dari orangnya atau sistemnya?. Seperti mencari jawaban duluan telur atau ayam. Berpikir bahwa orangnyalah dahulu yang harus dibenahi tetapi ketika sistemya tidak men-support maka tidak akan ada hasilnya. Kemudian berpikir sistemnya dahulu yang harus dibenahi akan tetapi orang-orangnya tidak men-support maka juga tidak akan ada hasinya. Yang tepat adalah membenahi keduanya secara komprehensif dan bersamaan.
Orang Indonesia kurang terbentuk jiwa nasionalismenya karena nilai-nilai history bangsa kurang ditanamkan kepada masyarakat muda, mulai dari bangku sekolah yang porsi penyampaian nilai-nilai history bangsa yang kurang sampai penjagaan bukti-bukti history bangsa –peninggalan-peninggalan bersejarah- yang tidak dirawat dengan baik. Seharusnya bangku sekolah bisa menapakkan jejak-jejak cikal bakal nasionalisme dalam diri masyrakat, kemudian bukti-bukti history dapat berguna untuk lebih memantapkan rasa nasionalisme karena bersemangat untuk melanjutkan perjuangan pendahulunya.
Genta reformasi sejak 1998 mengajak semua elemen kehidupan bangsa untuk berubah, mencoba untuk lebih bebas dan terbuka. Namun kenapa nasionalisme masyarakat terhadap bangsa ini tidak ikut bebas dan terbuka, menjamur dengan luas?. Ketika semua elemen kehidupan bangsa ini meraung-raung kebebasannya, seharusnya ada celah emas perkembangan nasionalisme, karena semua orang lebih mudah menyampaikan pendapat dan kesukaannya termasuk nasionalisme kepada bangsa ini. Namun masyarakat lebih disibukkan oleh kepentingan golongan, golongan menang sudah cukup dan urusan lain masa bodoh. Sikap apatis, oportunis dan pragmatis masyarakat Indonesia sudah cukup parah, terbukti dari mulai Dewan Perwakilan Rakyat sampai pengurus Rukun Tangga, orang-orang yang terlibat didalamnya mindset geraknya selalu kepentingan golongan -bangsa itu dibawah golongan-. Memang kadang-kadang terlihat diskusi alot di DPR RI terkait masalah rakyat, namun apakah itu atas dasar kepentingan rakyat atau kepentingan golongan yang lebih banyak memberi keuntungan bagi golongan tertentu?. Mata masyarakat sudah tertutup kacamata golongan, sehingga yang tampak cuma keuntungan golongan, bisa dikatakan mereka itu memiliki rasa nasionalisme, tapi nasionalisme golongan.
Nasionalisme tidak hanya sebuah branding pagelaran, nasionalisme tidak hanya sebuah teriakan, nasionalisme tidak cukup dari bangku sekolah dan nasionalisme tidak bisa dilihat dengan kacamata golongan. Indonesia butuh nasionalisme rakyatnya, Indonesia bukan Susilo Bambang Yudoyono atau Soekarno, bukan tentara atau polisi, bukan guru atau PNS tapi Indonesia adalah seluruh rakyat Indonesia dari mulai kecil sampai besar, muda sampai tua, miskin sampai kaya serta laki-laki dan perempuan. Masyarakat Indonesia harus sadar, bahwa merekalah yang mempunyai tanggungjawab membuat Indonesia lebih maju, mempertahankan behavior bangsa –masyarakat sosial- dan eksistensi bangsa tetap terjaga.
Lupakan kesukaan terhadap trend –baju, tas, sepatu, gaya dup dll- yang merebak sekarang, karena Indonesia sudah memiliki trend sendiri, Indonesia memiliki batik, sepatu kulit dan gaya hidup yang peduli sesama lepas dari individualisme diri. Kebanggaan terhadap produk-produk dalam negeri itulah salah satu pemantik nasionalisme dalam diri. Dengan jumlah penduduk 200juta lebih ini bila semua mencintai produk dalam negeri maka ekonomi Amerikapun bisa goyah, Jepang bisa kalah dan Malaysia tunduk pasrah.
Jadikan nasionalisme penyebab emosi, bukan emosi penyebab nasionalisme karena kalau begitu bila emosi reda maka nasionalisme ikut redup. Bila nasionalismelah yang menyebabkan emosi maka emosi itu hanya ekor dari rasa nasionalisme yang kokoh. Indonesia tidak lagi terkenal sebagai ”Terorism Storage”, tapi akan terkenal sebagai ”The Shining Example for Nationalism”.
Nasionalisme tidak cukup dari bangku sekolah, bangku sekolah hanya sebagai pemantik rasa nasionalisme, dan rasa nasionalisme yang sebenarnya akan didapat dari proses interaksi masyarakat yang kondusif dan memiliki jiwa nasionalisme. Jangan biarkan goresan-goresan history bangsa –peninggalan-peniggalan bersejarah; gedung-gedung bersejarah, benda-benda bersejarah- tidak terawat dengan baik, karena itu akan menjadi pengingat perjuangan pendahulu bangsa ini dan akan bisa membangkitkan rasa nasionalisme.
Jangan menghilangkan jati diri bangsa, Indonesia adalah bangsa yang ramah dan kokoh dalam kebinekaannya. Suku, agama dan ras tidak menjadi penghalang bagi kecintaan terhadap bangsa. Buang kacamata golongan, kacamata itulah yang membuat bangsa ini terpecah-belah. Tak ada golongan, yang ada adalah Indonesia SATU. Bila masyarakat Indonesia bangga dan cinta dengan bangsanya maka tahun 2015 nanti Indonesia akan menjadi ”The Shining Example for Nationalism” dan tidak ada lagi negara lain yang berani menertawakan Indonesia.
(karya ini saya ikutkan di Lomba Esay “Menjadi Indonesia” oleh Tempo Institute, tapi belum membuahkan hasil. semoga bisa bermanfaat bagi yang membaca)

Bintang yang hanya setengah

Posted in Motivation on September 10, 2009 by zackyzuro

skies_002“Ketika malam datang, sang bintang tak mau kalah dengan keindahan bulan, tapi ternyata satu bintang tidak cukup indah untuk menyaingi indahnya bulan. Akhirnya sang bintang mengajak teman2ny yang jumlahny ribuan. Bintang2 akhirny menjadi sangat indah, namun keindahannya walaupun sangat indah tetaplah hanya setengah keindahan dari langit malam.
Yg setengah lagi ada pada bulan.
“Bulan dan bintang adalah pasangan, pasangan tidak saling bersaing tapi saling melengkapi. begitupula dengan laki-laki dan perempuan”
Subhanalloh…
(Tulisan ini kutulis atas dasar keresahan hati yang tak kunjung mendapatkannya…)

Mulai dari diri sendiri

Posted in Motivation on Juni 30, 2009 by zackyzuro

congressional-cemetery-ca-1860sDi atas nisan seorang tokoh agama di Webminster Abey Inggris 1100 M, terukir sebuah sajak; “Ketika aku masih muda dan bebas berkhayal, aku bermimpi ingin mengubah dunia. Namun seiring dengan berjalannya waktu dan kearifanku, ternyata dunia tak kunjung berubah. Kemudian kuputuskan untuk mempersempit cita-citaku, ku ingin mengubah negriku. Namun ternyata negrikupun juga tak berubah.
Ketika usiaku semakin senja dan dengan semangatku yang masih tersisa, kuputuskan untuk mengubah keluargaku, namun celakanya keluargaku juga tak mau berubah. Ketika diriku terbaring tinggal menunggu ajal, kusadari, seandainya dulu yang pertama-tama kuubah adalah diriku dulu, mungkin dengan menjadikan diriku sebagai panutan maka keluargaku mau berubah. Kemudian dengan dukungan dari kelurgaku mungkin saja negriku bisa kuubah, dan belehjadi duniapun juga bisa kuubah”

Penyesalan

Posted in Story on Juni 24, 2009 by zackyzuro

friendship2 (1)Ternyata menjaga hati itu memang sulit…
beberapa kali hati ini buta oleh nafsu sesaat, ketika kesalahan itu sudah terjadi baru ada rasa penyesalan. Memang penyesalan itu datang belakangan. Kalau saja penyesalan itu datangnya diawal, pasti tidak ada kesalahan. Penyesalan ini memang akan membuat jera, namun hanya sesaat saja. Bila ada kesempatan, pasti akan berbuat lagi. Lalu menyesal lagi, jera lagi, berbuat lagi, menyesal lagi dst…..
wah jadi pusing dan kalud buanget….
tapi Trying to be better saya rasa hal yang perlu dilakukan, harus dilakukan dan segera…
doakan ku bisa menjalani hidup ini better than past….
Hahahahahahahah…

KOVALEN

Posted in Story on Mei 2, 2009 by zackyzuro

chemistryKovalen merupakan bahasa yang ada dalam dunia kimia, tapi aku lupa devinisinya. Tapi ku ndak mau membahas tentang kimia. Kovalen disini adalah HMP yang ada di FKIP UNS, HMP anak pendidikan Kimia. Hari ini, Sabtu 2 Mei 2009 mereka mengadakan Up Grading di Balekambang Solo. dan akulah yang menjadi trainer di materi motivasi organisasi. Ternyata anak-anak kovalen adalah anak-anak yang menarik dan interest terhadap materi yang kuberikan.
“Bayangkan Soekarno dulu berpikiran sempit hanya memikirkan akademiknya saja tanpa memikirkan pergerakan pemuda saat itu, maka mungkin Indonesia sekarang TIDAK ada”
Marry O’Cornor berkata “Yang menjadi masalah bukanlah sesibuk apa kita, namun sibuk kita itu untuk apa?, si Lebah dipuji dan Si nyamuk ditepuk”
Dua ungkapan bijak itu adalah inti yang kusampaikan, semoga mereka paham, bahwa menjadi organisator itu tidak akan rugi, karena kesibukan seorang organisator itu tidak hanya bermanfaat bagi diri sendiri, tapi juga bermanfaat bagi orang lain. Dan hanya mahasiswa pedullilah yang bisa disebut seorang mahasiswa, kalau yang lainnya itu hanya mahasiswa jadi-jadian.
Semangat, dan terus tunjukkan eksistensimu di ranah mahasiswa yang peduli.